{"id":18441,"date":"2021-03-23T01:24:46","date_gmt":"2021-03-23T01:24:46","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/?p=18441"},"modified":"2021-03-23T01:24:46","modified_gmt":"2021-03-23T01:24:46","slug":"viral-cabai-diduga-dicat-pewarna-oranye-di-banyuwangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/viral-cabai-diduga-dicat-pewarna-oranye-di-banyuwangi\/","title":{"rendered":"Viral Cabai Diduga Dicat Pewarna Oranye di Banyuwangi"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/tag\/cabai\"><strong>Cabai<\/strong>\u00a0<\/a>diduga dicat dengan pewarna buatan berwarna oranye di\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/tag\/banyuwangi\">Kabupaten Banyuwangi<\/a><\/strong>, Jawa Timur. Temuan ini diunggah oleh cucu Suryati, Agung di Facebook, Kamis (18\/3) dan sempat viral di media sosial.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Video berdurasi 32 detik itu memperlihatkan seorang warga tengah menumis\u00a0<span id=\"vlink\" class=\"vlink svelte-1vl3pmz\" data-id=\"754d5ee2-e1a7-4efc-b7e9-6e9a250a8872\"><span class=\"v_wrapper svelte-1vl3pmz\"><span class=\"v_firstword svelte-1vl3pmz\"><span class=\"v_spacer svelte-1vl3pmz\">\u00a0<\/span>cabai<\/span>\u00a0yang diduga dicat dengan pewarna buatan.<\/span>\u00a0<\/span>Pengguna facebook itu mengomentari cabai yang ia tumis semakin lama semakin mengental.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia menduga cabai yang dibeli dari tukang sayur keliling itu dicat dengan pewarna buatan<\/p>\n<p>&#8220;Beli di mlijo [tukang sayur]. Lomboknya baik, segar, campur sama yang tua, itu terus saya pilih yang masak-masak, saya dahulukan,&#8221; kata Suryati dikutip dari\u00a0<em>CNNIndonesia TV<\/em>, Senin (22\/3).<\/p>\n<p>Suryati mengaku membeli cabai tersebut Rp11 ribu per ons di pedagang sayur tak jauh dari rumahnya.<\/p>\n<p>Ia tak menemukan keanehan saat cabai tersebut dicuci dengan air. Namun, ketika ditumis, cabai tersebut mengental.<\/p>\n<p>Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifudin mengatakan pihaknya tengah menelusuri kasus ini. Pihaknya telah meminta keterangan dari pembuat video, pedagang sayur keliling, hingga petani cabai.<\/p>\n<p>Arman mengaku telah mengamankan cabai yang diduga dicat pewarna itu. Ia akan menyerahkan temuan itu ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk diteliti lebih lanjut.<\/p>\n<p>&#8220;Kami sudah mengamankan satu orang ya, yang di mana diduga merekam dan menyebarluaskan viralnya video lombok yang diduga dilumuri dengan cat warna oranye,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat, per Senin (22\/3), harga cabai rawit hijau naik 4,27 persen menjadi Rp61.100 per Kg.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Harga termahal Rp115 ribu per Kg di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Sementara, harga termurah Rp25.500 per Kg di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.<\/p>\n<p>Cabai rawit merah juga naik 0,85 persen. Sementara itu, penurunan harga terjadi pada cabai merah keriting menjadi Rp50.500 per Kg.<\/p>\n<p><b>(khr\/fra)<\/b><\/p>\n<p>Dikutip Oleh : (\u00a0https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210322161453-20-620574\/viral-cabai-diduga-dicat-pewarna-oranye-di-banyuwangi )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cabai\u00a0diduga dicat dengan pewarna buatan berwarna oranye di\u00a0Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Temuan ini diunggah oleh cucu Suryati, Agung di Facebook, Kamis (18\/3) dan sempat viral di media sosial. &nbsp; Video berdurasi 32 detik itu memperlihatkan seorang warga tengah menumis\u00a0\u00a0cabai\u00a0yang diduga dicat dengan pewarna buatan.\u00a0Pengguna facebook itu mengomentari cabai yang ia tumis semakin lama semakin mengental. &nbsp; Ia menduga cabai yang dibeli dari tukang sayur keliling itu dicat dengan pewarna buatan &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18442,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3,1],"tags":[],"class_list":["post-18441","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","category-uncategorized"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/5fee615e02528.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8TjRm-4Nr","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18441","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18441"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18441\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18443,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18441\/revisions\/18443"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18442"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18441"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18441"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jamkridasulsel.co.id\/info\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18441"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}