“Peguyuban ini penting mengingat wilayah cakupan yang luas. Makanya perlu dibuat peguyuban untuk tingkat di atas Kanca yang dapat menyampaikan informasi dan kondisi terkait Agen BRILink di masing-masing daerah yang diwakili oleh pengurus dan anggota yang aktif,” kata Yogie kepada Upeks.
Menurut Yogie, peran agen sebagai nasabah terpilih perseroan cukup besar terhadap bisnis perseroan. Terutama menjangkau wilayah-wilayah pedesaan.
“Agen brilink adalah bisnis masa depan BRI. Kontribusinya antara lain adalah memberikan fee based income yang besar untuk bisnis BRI. Selain sebagai referral (pemberi referensi) untuk calon nasabah/debitur baru BRI. Menggantikan peran bank pada saat libur atau di luar jam kerja,” ujarnya.
Sehingga perseroan terus mendorong penambahan jumlah agen. Hingga September 2018 telah tersebar 19.000 agen di wilayah cakupan yang menaungi empat provinsi masing-masing Sulsel, Sulbar, Sultra, dan Maluku.
Terdiri dari 9.300 agen brilink EDC yang difasilitasi mesin gesek alias Elektronik Data Capture (EDC) dan 9.700 agen brilink mobile yang menggunakan telepon pintar.
“Persebaran agen terbesar ada di Sulsel. Dari 19.000 agen, 13.000 diantaranya tersebar di Sulsel,” urai Yogie.
Yogie melanjutkan, pertumbuhan agen juga cukup agresif, mencapai 150 agen per Minggu. Sedangkan jumlah transaksi per bulan adalah 3 juta transaksi. Secara kumulatif 2018, perseroan menargetkan jumlah agen di angka 23.547.
“Di BRI terutama yang berkaitan dengan agen brilink yaitu BRI unit, pertumbuhan dana seperti Simpedes tumbuh terus berkesinambungan,” pungkasnya. (hry)
